Get the Flash Player to see this player.

My Photos Galery

Kumpulan Foto Koleksi Pribadi Admin.

Kumpulan Sebagian Puisi W.S. Rendra

W.S. Rendra merupakan seniman yang terkenal dengan puisi-puisi ciptaannya. Berikut merupakan sebagian dari hasil karyanya.

slide 3 is under constructions

This Content is Under Constructions by Admin

slide 4 is under constructions

This Content is Under Constructions by Admin

SMK ISSUDA 2 AMBARAWA

Sekolah dimana Admin makan perabot pendidikan bidang TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan). Terimakasih sekolah atas makanan yang diberikan kepada saya (Admin).

Monday, April 22, 2013

SAJAK S L A

Oleh : 
W.S. Rendra
 
Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya 
Bagaimana itu mungkin ?
 
Itu mungkin.
 
Karena tidak ada patokan untuk apa saja.
 
Semua boleh. Semua tidak boleh.
 
Tergantung pada cuaca.
 
Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.
 
Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata.
Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang. 
Ibu guru ingin hiburan dan cahaya.
 
Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor.
 
Dan juga ingin jaminan pil penenang,
 
tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter.
 
Maka berkatalah ia
 
Kepada orang tua murid-muridnya :
 
“Kita bisa mengubah keadaan.
 
Anak-anak akan lulus ujian kelasnya,
 
terpandang di antara tetangga,
 
boleh dibanggakan pada kakak mereka.
 
Soalnya adalah kerjasama antara kita.
 
Jangan sampai kerjaku terganggu,
 
karna atap bocor.”
Dan papa-papa semua senang. 
Di pegang-pegang tangan ibu guru,
 
dimasukan uang ke dalam genggaman,
 
serta sambil lalu,
 
di dalam suasana persahabatan,
 
teteknya disinggung dengan siku.
Demikianlah murid-murid mengintip semua ini. 
Inilah ajaran tentang perundingan,
 
perdamaian, dan santainya kehidupan.
Ibu guru berkata : 
“Kemajuan akan berjalan dengan lancar.
 
Kita harus menguasai mesin industri.
 
Kita harus maju seperti Jerman,
 
Jepang, Amerika.
 
Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.”
Murid-murid tertawa, 
dan mengeluarkan rokok mereka.
“Karena mengingat kesopanan, 
jangan kalian merokok.
 
Kelas adalah ruangbelajar.
 
Dan sekarang : daftar logaritma !”
Murid-murid tertawa dan berkata : 
“Kami tidak suka daftar logaritma.
 
Tidak ada gunanya !”
“kalian tidak ingin maju ?”
“Kemajuan bukan soal logaritma. 
Kemajuan adalah soal perundingan.”
“Jadi apa yang kaian inginkan ?”
“Kami tidak ingin apa-apa. 
Kami sudah punya semuanya.”
“Kalian mengacau !”
“Kami tidak mengacau. 
Kami tidak berpolitik.
 
Kami merokok dengan santai.
 
Sperti ayah-ayah kami di kantor mereka :
 
santai, tanpa politik
 
berunding dengan Cina
 
berunding dengan Jepang
 
menciptakan suasana girang.
 
Dan di saat ada pemilu,
 
kami membantu keamanan,
 
meredakan partai-partai.”
Murid-murid tertawa. 
Mereka menguasai perundingan.
 
Ahli
 lobbying. 
Faham akan gelagat.
 
Pandai mengikuti keadaan.
 
Mereka duduk di kantin,
 
minum sitrun,
 
menghindari ulangan sejarah.
 
Mereka tertidur di bangku kelas,
 
yang telah mereka bayar sama mahal
 
seperti sewa kamar di hotel.
 
Sekolah adalah pergaulan,
 
yang ditentukan oleh mode,
 
dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan.
 
Dan bila ibu guru berkata :
 
“Keluarkan daftar logaritma !”
 
Murid-murid tertawa.
 
Dan di dalam suasana persahabatan,
 
mereka mengobel ibu guru mereka.
Yogya, 22 Juni 1977.

SAJAK PULAU BALI

Oleh : 
W.S. Rendra
 
Sebab percaya akan keampuhan  industri 
dan yakin bisa memupuk modal nasional
 
dari kesenian dan keindahan alam,
 
maka Bali menjadi obyek pariwisata.
Betapapun : 
tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
 
Bali harus dibuka untuk pariwisata.
 
Sebab :
 
pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
 
dan maskapai penerbangan harus berjalan.
 
Harus ada orang-orang untuk diangkut.
 
Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.
Dan waktu senggang manusia, 
serta masa berlibur untuk keluarga,
 
harus bisa direbut oleh maskapai
 
untuk diindustrikan.
Dan Bali, 
dengan segenap kesenian,
 
kebudayaan, dan alamnya,
 
harus bisa diringkaskan,
 
untuk dibungkus dalam kertas kado,
 
dan disuguhkan pada pelancong.
Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia, 
di muka perkemahan kaum Badui,
 
di sisi mana pun yang tak terduga,
 
lebih mendadak dari mimpi,
 
merupakan kejutan kebudayaan.
Inilah satu kekuasaan baru. 
Begitu cepat hingga kita terkesiap.
 
Begitu lihai sehingga kita terkesima.
Dan sementara kita bengong, 
pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,
 
membawa bentuk kekuatan modalnya :
 
lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”,
 
jalan raya, dan para pelancong.
“Oh, look, honey – dear ! 
Lihat orang-orang pribumi itu!
 
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
 
Fantastic ! Kita harus memotretnya ! 
…………………………..
Awas ! Jangan dijabat tangannya ! 
senyum saja
 and say hello. 
You see, tangannya kotor 
Siapa tahu ada telor cacing di situ.
 
…………………….
My God, alangkah murninya mereka. 
Ia tidak menutupi teteknya !
 
Look, John, ini benar-benar tetek. 
Lihat yang ini ! O, sempurna !
 
Mereka bebas dan spontan.
 
Aku ingin seperti mereka…..
 
Eh, maksudku…..
 
Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja. 
Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
 
Look, now, John, jangan cemberut ! 
Berdirilah di sampingnya,
 
aku potret di sini.
 
Ah !
 Fabolous !”
Dan Bank Dunia 
selalu tertarik membantu negara miskin
 
untuk membuat proyek raksasa.
 
Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.
Dan kemajuan kita 
adalah kemajuan budak
 
atau kemajuan penyalur dan pemakai.
Maka di Bali 
hotel-hotel pribumi bangkrut
 
digencet oleh
 packaged tour.
Kebudayaan rakyat ternoda 
digencet standar dagang internasional.
Tari-tarian bukan lagi satu mantra, 
tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
 
Pahatan dan ukiran  bukan lagi ungkapan jiwa,
 
tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.
Hidup dikuasai kehendak manusia, 
tanpa menyimak jalannya alam.
 
Kekuasaan kemauan manusia,
 
yang dilembagakan dengan kuat,
 
tidak mengacuhkan naluri ginjal,
 
hati, empedu, sungai, dan hutan.
 

Di Bali : 
pantai, gunung, tempat tidur dan pura, 
telah dicemarkanPejambon, 23 Juni 1977.

SAJAK POTRET KELUARGA

Oleh : 
W.S. Rendra
 
Tanggal lima belas tahun rembulan. 
Wajah molek bersolek di angkasa.
 
Kemarau dingin jalan berdebu.
 
Ular yang lewat dipagut naga.
 
Burung tekukur terpisah dari sarangnya.
Kepada rekannya berkatalah suami itu :
“Semuanya akan beres. Pasti beres. 
Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya.
 
Kesukaran selalu ada.
 
Itulah namanya kehidupan.
 
Apa yang kita punya sudah lumayan.
 
Asal keluarga sudah terjaga,
 
rumah dan mobil juga ada,
 
apa palgi yang diruwetkan ?
 
Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan.
 
Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa.
 
Di rumah ada TV, anggrek,
 
air conditioning, dan juga agama. 
Inilah kesejahteraan yang harus dibina.
 
Kita mesti santai.
 
Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran.
 
Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan.
 
Salah-salah malah hilang jabatan.”
 
………
Tanggal lima belas tahun rembulan 
Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang.
 
Malam disambut suara halus dalam rumputan.
 
Anjing menjenguk keranjang sampah.
 
Kucing berjalan di bubungan atap.
 
Dan ketonggeng menunggu di bawah batu.
Isri itu duduk di muka kaca dan berkata :
“Hari-hari mengalir seperti sungai arak. 
Udara penuh asap candu.
 
Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.
 
Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.
 
Tak ada yang bisa diambil pegangan.
 
Suamiku asyik dengan mobilnya
 
padahal hidupnya penuh utang.
 
Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.
 
Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
 
Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
 
Apakah jaminan pendidikannya ?
 
Ah, Suamiku !
 
Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
 
pikirannya jelas pula.
 
Tetapi kini serba tidak kebenaran.
 
Setiap barang membuatnya berengsek.
 
Padahal harganya mahal semua.
 
TV Selalu dibongkar.
 
Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
 
Akhirnya tertidur…….
 
Sementara TV-nya membuat kegaduhan.
 
Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.
 
Gampang marah soal mobil
 
Gampang pula kambuh bludreknya
 
Makanan dengan cermat dijaga
 
malahan kena sakit gula.
 
Akulah yang selalu kena luapan.
 
Ia marah karena tak berdaya.
 
Ia menyembunyikan kegagalam.
 
Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.
 
Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya !”
 
…………………………………..
Tanggal lima belas tahun rembulan. 
Tujuh unggas tidur di pohon nangka
 
Sedang di tanah ular mencari mangsa.
 
Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.
 
Di tebing yang landai tidurlah buaya.
 
Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.
Sang Putri yang di SLA, berkata :
“Kawinilah aku. Buat aku mengandung. 
Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu.
 
Aku membenci duniaku ini.
 
Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah.
 
Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV
 
Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.
 
Suasana tegang di dalam rumah
 
meskipun rapi perabotannya.
 
Aku yakin keluargaku mencintaiku.
 
Tetapi semuanya ini untuk apa ?
 
Untuk apa hidup keluargaku ini ?
 
Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV ?
 
Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan ?
 
Dan aku ? Apa jadinya aku nanti ?
 
Tiga belas tahun aku belajar di sekolah.
 
Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri.
 
Untuk apakah kehidupan kami ini ?
 
Untuk makan ? Untuk baca komik ?
 
Untuk apa ?
 
Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa !
 
Kemacetan mencengkeram hidup kami.
 
Kakasihku, temanilah aku merampok Bank.
 
Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku “
 
………………………………………
Tanggal lima belas tahun rembulan. 
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
 
di bawah cahaya bulan.
 
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan.
 
Akar bambu bercahaya pospor.
 
Keleawar terbang menyambar-nyambar.
 
Seekor kadal menangkap belalang.
Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :
“ Ayah dan ibu yang terhormat, 
aku pergi meninggalkan rumah ini.
 
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
 
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
 
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
 
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
 
tetapi kehilangan kesejahteraan.
 
Bahkan kemewahan yang ayah punya
 
tidak juga berarti kemakmuran.
 
Ayah berkata : “santai, santai ! “
 
tetapi sebenarnya ayah hanyut
 
dibawa arus jorok keadaan
 
Ayah hanya punya kelas,
 
tetapi tidak punya kehormatan.
 
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
 
Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?
 
Apakh produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
 
Seorang petani lebih produktip daripada ayah.
 
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
 
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
 
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
 
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
 
Ayah tidak produktip melainkan destruktip.
 
Namun toh ayah mendapat gaji besar !
 
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
 
tidak pernah, bukan ?
Terlalu beresiko, bukan ? 
Apakah aku harus mencontoh ayah ?
 
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
 
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
 
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “
 
Yogya, 10 Juli 1975.

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA

Oleh : 
W.S. Rendra
 
Matahari terbit pagi ini 
mencium bau kencing orok di kaki langit,
 
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
 
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya. 
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
 
memeriksa keadaan.
Kita bertanya : 
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
 
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
 
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
 
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina 
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
 
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
 
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
 
Dan kita di sini bertanya :
 
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
 
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan 
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
 
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
 
Perkebunan yang luas
 
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
 
Alat-alat kemajuan yang diimpor
 
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : 
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi. 
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
 
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
 
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
 
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
 
akan menjadi alat pembebasan,
 
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam. 
Malam akan tiba.
 
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
 
Dan rembulan akan berlayar.
 
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
 
Akan hidup di dalam bermimpi.
 
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari 
matahari akan terbit kembali.
 
Sementara hari baru menjelma.
 
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
 
Atau masuk ke sungai
 
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya : 
Ada yang menangis, ada yang mendera.
 
Ada yang habis, ada yang mengikis.
 
Dan maksud baik kita
 
berdiri di pihak yang mana !
 
 
Jakarta 1 Desember 1977 
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaja.

Daftar Isi