Get the Flash Player to see this player.

My Photos Galery

Kumpulan Foto Koleksi Pribadi Admin.

Kumpulan Sebagian Puisi W.S. Rendra

W.S. Rendra merupakan seniman yang terkenal dengan puisi-puisi ciptaannya. Berikut merupakan sebagian dari hasil karyanya.

slide 3 is under constructions

This Content is Under Constructions by Admin

slide 4 is under constructions

This Content is Under Constructions by Admin

SMK ISSUDA 2 AMBARAWA

Sekolah dimana Admin makan perabot pendidikan bidang TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan). Terimakasih sekolah atas makanan yang diberikan kepada saya (Admin).

Showing posts with label W.S. Rendra. Show all posts
Showing posts with label W.S. Rendra. Show all posts

Monday, April 22, 2013

TAHANAN

Oleh :
W.S. Rendra
Atas ranjang batu 
tubuhnya panjang
 
bukit barisan tanpa bulan
 
kabur dan liat
 
dengan mata sepikan terali
Di lorong-lorong 
jantung matanya
 
para pemuda bertangan merah
 
serdadu-serdadu Belanda rebah
Di mulutnya menetes 
lewat mimpi
 
darah di cawan tembikar
 
dijelmakan satu senyum
 
barat  di perut gunung
 
(Para pemuda bertangan merah
 
adik lelaki neruskan dendam)
Dini hari bernyanyi 
di luar dirinya
 
Anak lonceng
 
menggeliat enam kali
 
di perut ibunya
 
Mendadak
 
dipejamkan matanya
Sipir memutar kunci selnya 
dan berkata
 
-He, pemberontak
 
hari yang berikut bukan milikmu !
Diseret di muka peleton algojo 
ia meludah
 
tapi tak dikatakannya
 
-Semalam kucicip sudah
 
betapa lezatnya madu darah.
Dan tak pernah didengarnya 
enam pucuk senapan
 
meletus bersama

SAJAK WIDURI UNTUK JOKI TOBING

Oleh : 
W.S. Rendra
 
Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir. 
Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.
 
Orang-orang miskin menentang kemelaratan.
 
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
 
kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.
 
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
 
karena terlibat aku di dalam napasmu.
 
Dari bis kota ke bis kota
 
kamu memburuku.
 
Kita duduk bersandingan,
 
menyaksikan hidup yang kumal.
 
Dan perlahan tersirap darah kita,
 
melihat sekuntum bunga telah mekar,
 
dari puingan masa yang putus asa.
Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977

SAJAK TANGAN

Oleh : 
W.S. Rendra
 
Inilah tangan seorang mahasiswa, 
tingkat sarjana muda.
 
Tanganku. Astaga.
Tanganku menggapai, 
yang terpegang anderox hostes berumbai,
 
Aku bego. Tanganku lunglai.
Tanganku mengetuk pintu, 
tak ada jawaban.
 
Aku tendang pintu,
 
pintu terbuka.
 
Di balik pintu ada lagi pintu.
 
Dan selalu :
 
ada tulisan jam bicara
 
yang singkat batasnya.
Aku masukkan tangan-tanganku ke celana 
dan aku keluar mengembara.
 
Aku ditelan Indonesia Raya.
Tangan di dalam kehidupan 
muncul di depanku.
 
Tanganku aku sodorkan.
 
Nampak asing di antara tangan beribu.
 
Aku bimbang akan masa depanku.
Tangan petani yang berlumpur, 
tangan nelayan yang bergaram,
 
aku jabat dalam tanganku.
 
Tangan mereka penuh pergulatan
 
Tangan-tangan yang menghasilkan.
 
Tanganku yang gamang
 
tidak memecahkan persoalan.
Tangan cukong, 
tangan pejabat,
 
gemuk, luwes, dan sangat kuat.
 
Tanganku yang gamang dicurigai,
 
disikat.
Tanganku mengepal. 
Ketika terbuka menjadi cakar.
 
Aku meraih ke arah delapan penjuru.
 
Di setiap meja kantor
 
bercokol tentara atau orang tua.
 
Di desa-desa
 
para petani hanya buruh tuan tanah.
 
Di pantai-pantai
 
para nelayan tidak punya kapal.
 
Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
 
Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
 
Tanganku mengepal.
 
Tetapi tembok batu didepanku.
 
Hidupku tanpa masa depan.
Kini aku kantongi tanganku. 
Aku berjalan mengembara.
 
Aku akan menulis kata-kata kotor
 
di meja rektor
TIM, 3 Juli 1977

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA

Oleh
W.S. Rendra 

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.
Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.
WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

SAJAK SEORANG TUA TENTANG BANDUNG LAUTAN API

Oleh
W.S. Rendra


Bagaimana mungkin kita bernegara 
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
 
Bagaimana mungkin kita berbangsa
 
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
 
bersama ?
 
Itulah sebabnya
 
Kami tidak ikhlas
 
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
 
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
 
sehingga menjadi lautan api
 
Kini batinku kembali mengenang
 
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
 
bau asap, bau keringat
 
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
 
langit berwarna kesumba
Kami berlaga 
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
 
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
 
yang bisa dialami dengan nyata
 
Mana mungkin itu bisa terjadi
 
di dalam penindasan dan penjajahan
 
Manusia mana
 
Akan membiarkan keturunannya hidup
 
tanpa jaminan kepastian ?
Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah 
Hidup yang diperkembangkan
 
dan hidup yang dipertahankan
 
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
 
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
 
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua 
Aku terjaga dari tidurku
 
di tengah malam di pegunungan
 
Bau apakah yang tercium olehku ?
Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu 
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
 
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini ? 
Apakah ini deru perjuangan masa silam
 
di tanah periangan ?
 
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
 
karena dikhianati dewa keadilan.
 
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
 
dibangunkan oleh mimpi ?
 
Apakah aku tersentak
 
Oleh satu isyarat kehidupan ?
 
Di dalam kesunyian malam
 
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
 
Apakah yang terjadi ?
Darah teman-temanku 
Telah tumpah di Sukakarsa
 
Di Dayeuh Kolot
 
Di Kiara Condong
 
Di setiap jejak medan laga. Kini
 
Kami tersentak,
 
Terbangun bersama.
 
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
 
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu, 
Apakah kita masih sama-sama setia
 
Membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa 
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
 
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
 
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
 
Apakah yang terjadi ?
 
Apakah yang telah kamu lakukan ?
 
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
 
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
 
Dari jawaban yang kita berikan.
Sajak-sajak : Rendra, Sutardji Calzoum Bachri 
pada Hari Kebangkitan Nasional 1990

Daftar Isi